Ankahtukaha…qabiltunikahaha’…
Posted on December 17, 2008 by admin
11.12.2008 ! Genap 4 tahun Umm Wafa & Abu Wafa’ melayari hidup bersama. Tentunya terlalu banyak perkara utk dikongsikan tika mana satu persatu ukhti dan akh bertanya..
‘bg lah tips sikit..esok nak akad nie..huhu’‘camne nie..sgt cuak…’‘alamak..takde perasaan la..normal ke…apa pesanan?’
Musim walimah tiba lagi dan perkongsian ini diharap memberi manfaat pada yang membaca..
Semoga saudara dan saudari yang menghitung hari.. atau baru beberapa hari..atau jam..atau telah mula berdayung ke syurga sentiasa dalam redhaNya..moga sama-sama mengambil peringatan dan juga senantiasa bersedia atas segala kemungkinan dariNya…

Rumahtangga pendakwah Muslim tidak harus kaku dan beku. Ia seharusnya diwarnai dengan gelak tawa, humor dan cinta seiring keseriusan dalam bekerja! Sesetengah masyarakat di luar sana menganggap rumahtangga sang pendakwah atau istilah “match make” atau apa saja istilah seumpanya tentunya hambar, tidak bermaya, sibuk ke hulu ke hilir, tidak ceria dan sebagainya. Justeru, tentunya pendapat itu perlu disangkal berhemah kerana sama sekali ianya tidak benar.
Sememangnya pernikahan adalah sebuah tanggungjawab. Apabila kita merasa punyai tanggungjawab, makanya kita pun siap menghadapi pernikahan dengan segala kebarangkalian yang bakal terjadi. Kehidupan dalam sebuah pernikahan adalah kehidupan ‘kerja’. Ia tidak hanya dihiasi senda gurau, senyum manis, kata-kata lembut dan romantisme. Namun, ia juga diwarnai dengan beban tanggungjawab dengan segala macam hak dan kewajipannya. Seharusnya kita memiliki akar yang cukup kuat apabila memilih untuk bernikah. Ibarat sebuah bangunan, semakin berat beban yang harus diterima, maka seharusnya semakin kukuh struktur asas yang perlu dibina. Juga semakin kompleks penelitian yang akan dibuat ke atas struktur bangunan, tidak hanya pada kekuatan asas, tetapi kekuatan pendukungnya yang lain.
Tentunya Ummu Wafa’ akan sentiasa mengingati detik 4 tahun lalu..detik akad nikah. Setiap detik menjelangnya merambat begitu lamban, di lautan hati yang penuh bunga, senyum bertebaran di wajah-wajah cerah, yang kian berseri..
Selepas itu tentunya kita tidak akan lagi merasa bahagia atau sedih sendiri, bahkan tidak akan bisa kita melakukan banyak hal untuk menuruti keinginan sendiri. Kini telah hadir seseorang yang mencintai kita dan harus juga kita cintai, yang memperhatikan dan perlu kita perhatikan, tempat curahan hati, berbagi rasa, canda, tangis, bahagia, susah, marah. Dan seseorang itu adalah ZAUJ kita !!
Kita membangun sebuah pernikahan kerana cinta kita kepada Allah dan kita ingin selalu menyempurnakan cinta itu adalah yang utama perlu kita perhatikan demi kelangsungan pernikahan kita di dunia dan akhirat. Tentunya kita tidak ingin pernikahan kita membawa kita semakin jauh dariNya justeru kemungkinan tersebut sangat besar adanya. Turun naik kebahagiaan dan beban tanggungjawab dalam pernikahan membuat kita mudah terbawa arus untuk selalu sibuk dengannya. Disnilah mulai nampak kecenderungan kepada anak..suami..perniagaan..dan lain-lain. Kerana itu, kita perlu membangun sebuah komitmen denganNya terlebih dahulu sebelum menjalin komitmen dengan pasangan hidup atau pernikahan kita..
Cinta bukan kerana keindahan yang tampak di mata..Tetapi kerana yang menyatukan hati dan jiwa..
Perlu diingat duhai saudara/saudariku, kita sedang membangun sebuah peradaban kecil sebagai batu bata peradaban dunia. Sebagaimana tugas kita menjadi khalifah di muka bumi ini (al-Baqarah:30) sebagai agen pembangun dan pemelihara agar bumi, langit dan isinya bermanfaat bagi manusia hingga akhir zaman. Ma’a zauj, kita akan membangun kehidupan, mencetak generasi penerus yang akan hidup di zamannya sendiri, memberikan rasa tenteram dan kenyamanan, menumbuhkan rasa percaya diri dan keyakinan menjalani hidup..semua kerana dan untuk mengharap cinta Allah. Inilah mengapa pernikahan separuh dari agama.
Tentunya menghadapi perbezaan adalah agenda yang akan dilalui oleh sebuah pasangan. Perbezaan latar belakang, sikap, sifat..cara pandang, yang mulanya kita hadir dengan milik kita sendiri kemudian akan lebur menjadi milik bersama. Merubah kenyataan harapan saya kepada harapan kita… kebahagiaan saya menjadi kebahagiaan kita… kesedihan saya menjadi kesedihan kita… dan harta saya menjadi harta kita. Kenyataannya, kita memang harus menerima perbezaan sebagai alunan dan rentak pernikahan kita. Ternyata keselarasan ini memerlukan perjalanan yang panjang, kesabaran dan kebersamaan.
Benar saudara dan saudariku yang dimuliakan Allah. Jangan dikira pasangan yang sudah bercinta sekian lama, saat menikah akan terus mencintai pasangannya. Juga jangan dikira pasangan yang tidak melalui fasa percintaan akan sulit mencintai pasangannya setelah bernikah. Cinta itu ibarat pohon, akarnya tumbuh ketika kita mulai berinteraksi dengan pasangan kita. Ia pun akan bersemi ketika kita mulai menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Kita sirami dan pupuk ia dengan kasih sayang serta perhatian. Ia akan mekar dan berbuah ranum ketika kita berusaha memberi yang terbaik untuk pasangan kita. Namun ia tidak tumbuh begitu sahaja, perlu dirawat dan dijaga dari penyakit dan hama yang mungkin kan menganggunya.
Saudara dan saudari,
Lautan hikmah dengan kedalaman makna yang nyaris tak terselami membentang di hadapan, kala kisah cinta agung Khadijah r.a dan Muhammad SAW kita selusuri. Betapa suburnya pohon cinta., akar-akarnya menghujam di hati, batangnya kukuh, rantingnya menjulang ke langit, daunnya rimbun, buahnya ranum, menaungi dan memberi kebahagiaan. Nyata pernikahan juga memerlukan keperluan emosional. Hubungan saling memahami, empati, toleransi dan motivasi. Perlunya ada penyelarasan dan keselarian emosi. Tambah lagi, tika awal pernikahan, saat yang cukup terduga, sabar dan iman harus diutamakan. Penyelarasan ini tidak akan terjadi serta merta. Sepertinya antena radio atau telivisi yang perlu diputar-putar untuk mendapat gelombang yang benar. Maka penyelarasan ini memerlukan fasa trial and error, dan ini akan terjadi sepanjang pernikahan kita hingga ke akhir hayat. Sabar dan syukur memudahkan kita memandang segala permasaalah kita dengan jiwa yang jernih.
Genap 4 tahun mengharungi samudera luas. diayun ombak, diterjang badai, dihembus angin, ditimpa hujan… diatapi terik mentari.. moga bahtera ini terus kukuh dalam ridha dan nuansa cinta padaNya!
kala cinta bertanya pada cinta..
imanlah jawabnya..Ya Allah. dimana lagikah dapat ku temui cinta sejati..
Kecuali pada cintaMu..
ke mana lagikah hati ini harus berlabuh..
kecuali pada kasihMu..
Jadikanlah hati yg lemah ini yaAllah..
tertambat kukuh hanya padaMU..
Aku mohon redha atas segenap keputusanMu
kesejukan setelah matiku..
kenikmatan memandang wajahMu..
dan kerinduan untuk berjumpa denganMu..
Ampunilah diri ini yang tidak beharga Ya Allah ..
Penuhilah kehinaannya dengan keindahan maghfirahMu
Curahan rasa,


